Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penetapan kebijakan menjadi sesuai yang paling fundamental dalam pengembangan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) ataupun sistem manajemen yang lainnya seperti mutu, lingkungan, energi dan yang lainya. Di Indonesia sendiri teradap dua standar pengembangan sistem manajemen K3 yang umum dikenal oleh dunia usaha atau Industri, yaitu

  • Sistem Manajemen K3 atau SMK3 yang mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No.50 Tahun 2012 tetang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).
  • Sistem Manajemen K3 atau SMK3 yang mengacu British Standard (BS) OHSAS 18001:2007, mungkin standar ini lebih dipopulerkan dibandingan PP No.50 Tahun 2012.

Kedua standar ini mensyaratkan adanya kebijakan K3, bahkan didalam SMK3 PP No.50 Tahun 2012, menjadi prinsip pertama mengenai penetapan kebijakan K3. Secara umum isi dari kebijakan K3 pada SMK3 PP No.50 Tahun 2012 dan OHSAS 18001:2007 tidak berbeda. Namun, ada sedikit perbedaan dalam proses penyusunannya seperti dinyatatakan dalam Kriteria SMK3 PP No.50 Tahun 2012. Dimana SMK3 PP No.50 Tahun 2012 mensyaratkan kebijakan K3 disusun melalui proses konsultasi dengan perwakilan tenaga kerja, point ini tidak disyaratkan dalam OHSAS 18001:2007. Tabel dibawah ini menunjukan persyaratan isi kebijakan K3 yang disyaratkan oleh SMK3 PP No.50 Tahun 2012 dan OHSAS 18001:2007.

Ketentuan Isi Kebijakan SMK3 PP No.50 Tahun 2012

Pasal 7 ayat 3

OHSAS 18001:2007 Klausul 4.2

Kebijakan K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:

  1. Visi
  2. Tujuan perusahaan
  3. komitmen dan tekad melaksanakan kebijakan; dan
  4. kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara menyeluruh yang bersifat umum dan/atau operasional

Note:

Pertimbangan dalam penyusuan kebijakan diatur dalam ayat 2.

    1. Sesuai dengan sifat dan skala resiko-resiko K3 organisasi.
    2. Mencakup suatu komitmen untuk pencegahan cidera dan sakit penyakit dan peningkatan berkelanjutan manajemen dan kinerja K3.
    3. Mencakup suatu komitmen untuk paling tidak mematuhi peraturan perunadangan K3 dan persyaratan lain yang relevan yang biasa dilakukan oleh organisasi yang berkaitan dengan resiko-resiko K3.
    4. Memberikan kerangka kerja untuk menetapkan dan meninjau tujuan-tujuan K3.
    5. Didokumentasikan, diterapkan dna dipeihara
    6. Dikomunikasikan keluruh personel dalam kendali organisasi dengan tujuan bahwa personel menyadari kewajiban K3 masing-masing
    7. Tersedia untuk semua pihak terkait
    8. Dikaji secara perodik untuk memastkan kebijakan relevan dan sesuai untuk organisasi

Kedua standard tersebut pada intinya memiliki kesamaan dalam ketentuan isi dari kebijakan K3, dimana kebijakan K3 harus mencakup komitmen untuk mencegah terjadi kecelakaan dan penyakit kerja, pemenuhan terhadap peraturan perundangan dan persyaratannya, dan komitmen untuk melakukan perbaikan berkelanjutan terhadap sistem manajemen K3. Tabel tersebut diatas diharapkan dapat membantu Anda yang akan mengembangkan atau mengimplementasikan kedua sistem manajemen K3 tersebut. Karena, saat ini banyak perusahaan yang mengadopsi kedua standard tersebut sekaligus, sebagai jawaban atas tuntutan peraturan perundangan dan persyaratan dari customer.

 

 contoh-kebijakan-K3-1.pdf
Mengenali Bahaya Di Tempat Kerja

Pemahaman atas segala bentuk sumber bahaya yang timbul dari pekerjaan yang dilakukan, terasa masih cukup awam sebagian besar pekerja di Indonesia. Padahal, pemahaman terdapat potensi bahaya, akan membantu mencegah terjadinya kecelakaan kerja maupun penyakibat kerja. Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja dalam pasal 9 penjelasan mengenai kondisi dan bahaya yang dapat di timbul ditempat kera menjadi kewajiban dari pengurus atau pemimpin dari tempat kerja yang bersangkutan.

Sedangkan dalam pasal 12 tenaga kerja memiliki hak untuk menyatakan keberatan atas suatu pekerjaan bila mana syarat-syarat keselamata dan kesehatan kerja. Ketidak pahaman tenaga kerja akan potensi bahaya yang mereka hadapi dalam bekerja dapat mempertinggi peluang terjadi kecelakaan kerja dan penyakibat kerja. Hal ini terjadi, sebagai akibat dari ketidak pedulian pimpinan perusahaan maupun tenaga kerja terhadap potensi bahaya yang akan terjadi dan peraturan perundangan yang harus mereka pahami. Meskpun orientasi dalam bekerja seharusnya mengacu pada slogan Safety First, dalam praktek sebagian besar dunia usaha atau industri masih berfokus pada Production First.

Jika diperhatikan dari berbagai standar mengenai sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, mengenai sumber bahaya ditempat kerja menjadi langkah awal didalam pengembangan sistem keselamatan. Dari segala potensi sumber bahaya inilah dapat dilakukan penilaian resiko dan penentuan terhadap bentuk pengendalian yang tepat.

Mengenai sumber bahaya ditempat kerja dari lakukan dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Material, terdapat sejumlah karakteristik material yang umum diketemukan mulai dari yang bersifat mudah terbakar, korosif, mudah meledak, beracun dan yang lainya, untuk lebih detail dalam merujuk kepada peraturan pemerintah No.74 Tahun 2001 tentang pengendalian bahan berbahaya dan beracun.
  • Metode, perbedaan metode kerja akan mengakibatkan perbedaan potensi bahaya yang dapat timbul dari suatu pekerjaan. Sebagai proses manual handling kesalahan dalam metode pengangkatan dapat mengakibatkan cidera serius.
  • Mesin, setiap peralatan dan mesin yang dipergunakan pasti dilengkapi dengan manual book atau buku panduan didalamnya pasti akan dijelaskan segala potensi bahaya yang dapat timbul. Umumnya ditandai dengan pernyataan Caution !. Perlu dipastikan tenaga kerja akan dari bahaya titik jepit, titik geser, perputaran mesin dan yang lainnya.
  • Lingkungan kerja, kondisi tempat juga sebagai salah satu sumber bahaya yang perlu diperhatikan. Ada beberapa parameter yang biasanya diperhatikan terkait dengan lingkungan kerja seperti, pencahayaan, kebisingan, getaran, dan yang lainnya.
  • Energi, setiap sumber energi yang dipergunakan mengandung potensi bahaya didalamnya. Pelepasan energi yang tidak terkendali sebagai penyebab kecelakaan kerja potential.

Membangun kepedulian untuk mengenali segala bentuk potensi sumber bahaya akan membantu dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja. Cariselamat.com

Keselamatan di Rumah

Apakah Anda termasuk orang yang peduli terhadap Keselamatan ?

Pertanya ini, sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh seorang rekan ketika memberikan pelatihan yang berhubungan dengan keselamatan khusus yang berhubungan dengan pekerjaan. Sebagian banyak orang menjawab YA. Tapi nanti dulu, ketika dilanjutkan memperhatikan keselamatan dirumah, hampir semua orang terdiam.

Kondisi ini, sebagai sebuah indikasi bahwa semua pelaku keselamatan lebih banyak fokus terhadap keselamatan ditempat kerja, tetapi sering terlupakan keselamatan dirumah. Padahal, dirumah semua orang-orang yang kita cintai dan sayangi berkumpul semuanya disana.

Lalu apakah sebenarnya keselamatan dirumah atau dalam kerennya Home Safety dapat diartikan kepedulian dan pendidikan terhadap resiko dan bahaya potential didalam dan sekitar rumah yang membahayakan tubuh, cedera, atau kematian bagi mereka yang berada di dalam dan sekitar struktur fisik rumah. Ini termasuk mengurangi dan mencegah bahaya yang tidak diinginkan melalui pengujian, penelitian dan standar yang diterima dari aplikasi dan praktek.

sehubungan keselamatan dirumah, apabila kita lakukan kajian terhadap sejumlah sumber bahaya antara lain

  • Mold atau sering dikenal dengan mikroorganisme yang timbul sebagai akibat dari lingkungan yang lembab dirumah Anda. Mikroorganisme ini dapat mengakibatkan alergi pada sebagian orang.
  • Tergelincir atau Terpeleset, kejadian terjatuh dirumah umum disebabkan karena tergelincir atau terpeleset. Kondisi banyak yang sampi mengakibatkan cidera serius, mungkin Anda sering mendengar seseorang mengalami struk setelah terjadi dirumahnya. Sumber bahayanya bisa terjadi lantai basah, adanya ceceran minyak atau air, kemiringan lantai dan yang lainnya.
  • Kebakaran, salah satu sumbernya akibat kegiatan memasak yang biasa Anda lakukan di dapur atau sebagai akibat dari hubungan singkat arus listrik. Bahkan, tidak sedikit kebakaran mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit dan dapat meluas sampai ke lingkungan sekitar terutama dikawasan pada penduduk. Sebagai usaha pencegahannya, sediakanlah alat pemadam api ringan di dapur Anda, serta lakukan pengecekan terhadap instalasi listrik dirumah Anda.
  • Asbes, di Indonesia masih banyak kita temui rumah yang mempergunakan asbes sebagai atas rumah atau langit-langit (plafon) rumah.Dalam jangka panjang menghirup asbes terus menerus bisa menimbulkan risiko kesehatan. Asbes masuk ke dalam tubuh melalui cara inhalasi atau saluran pernapasan, memang dampak dari asbes ini akan dirasakan dalam jangka panjang.

Hal-hal yang disampaikan diatas mungkin, baru sebagian kecil dari sumber bahaya yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan Anda dirumah.Nah, mulai sekarang lindungi seluruh anggota keluarga anda, dari ancamana bahaya yang dapa terjadi kapan saja, tanpa mengenal waktu. CariSelamat.com